Puisi

Buat Sahabat

00.47

Malam kini semakin larut, kawan.
Tak jua inginkah kau terlelap?

-------------------------------------------------------------- 01:37 -----------------

Bulan tengah berdendang mesra bersama ribuan bintang
Alunan indahnya mampu lelapkan yang terjaga
Tetapi aku masih saja bergelut dengan kantuk
Tak sendiri,
Ada dia yang kusebut sahabat
Yang selalu bersama dimalam-malam tuk melepas penat
Tuk saling berbagi kebahagiaan, tangis, juga semangat.

Dan malam semakin larut
Dua pasang mata masih saja enggan terkatup
Berenang dikedalaman pikiran masing-masing
Menghadang badai yang tak jua reda
Kemudian, samar-samar terdengar
Simponi indah sang malam
Diiringi nyanyian pilu dari hatinya.

Bagaimana mungkin aku bisa tersenyum?
Sementara kau tengah bercinta dengan air mata,
Sedang butiran-butiran itu seakan mampu memendungkan langit.

Bagaimana bisa aku terlelap?
Sementara kau tengah berjuang diatas luka yang menghujam jiwamu,
Sedang rasa sakitnya dapat pula memurungkan bumi.

Dan sahabat,
Adakah sebait doa kan mampu redamkan kesakitanmu?



* dedicated to aprilia vercadio, sahabatku.
Cepet sembuh y ;)

Puisi

DIA*

22.42

Malam,
Kau tau aku sangat menggilaimu.
Tapi aku benci bila DIA* hadir menggusik kita. ||

Kegelapan selalu saja membantunya untuk hadir dalam malamku
Dan semakin tersiratkan oleh cahaya rembulan yang menyelusup
Lalu, kelelahan yang menghujam diri ini perlahan menciptakan sosoknya dalam imajinasiku

Segera saja dia mendekati tubuhku,
Menyapa jiwa-jiwa hampa dalam ragaku dan kemudian mendekapku dengan erat, sangat lekat.
Hingga udarapun tak dapat lagi menari dengan indahnya

Siapakah dia?
Malaikat, atau Iblis yang mencoba mengusik ketenangan jiwaku?
Tiba-tiba saja ketakutan mulai merasuki pikiranku dan menjalar dalam ragaku yang beku

Aku ingin teriak!
Agar ada yang mendengar kesakitan jiwaku
Tapi yang ada hanyalah nyanyian-nyanyian kebisuan

Aku ingin bergerak!
Agar ada yang mengerti betapa gelisahnya ragaku
Tapi yang ada hanyalah tarian-tarian kesendirian

Dan,
Saat sang fajar menyambut kedatangan hari baru
Bayangnya kian nyata dalam sebuah ketidakpastian

Saat ku bersedih,
Dapat kurasakan hangat jemarinya menghapus dinginnya airmata

Saat ku bahagia,
Dapat kulihat indah senyumnya melintasi langit tak berbatas

Kemudian aku tersadar
Dia tak hanya hadir pada malam-malamku
Atau dihari-hari ku menghabiskan sisa hidup

Tapi dia ada disetiap ruang tempatku bernapas
Dalam lelap maupun terjaga
Seakan menemani ragaku, kemanapun ku melangkah

Ah siapakah dia??
Yang menyentuhku dalam ruang-ruang tak tampak
Yang mengganggu lelapku dalam dimensi-dimensi ilusi

Aku gila!!
Dia tlah menggenggam hatiku
Mengganggu pikiranku dan perlahan mempengaruhi kehidupanku

Semakin menggila!!
Dia tlah menjadi bayanganku
Pada setiap langkah dan detik waktu.

Puisi

Boneka

22.37

Berhentilah menatapku seperti itu
Biasnya penuh harap
Hatiku luluh.. jiwaku rapuh..

Tapi.. Hei!
Aku tau kau tak setulus itu bukan?
Temanku pernah bilang..  kau suka wanita,  lalu tinggalkan.
Begitu saja.

Lalu, apa aku ini boneka barumu?
Haha.. bermainlah jika kau suka
Tapi bila nanti kau benar cinta.. nikmati saja sendiri, dan aku pergi. 
Tentu saja.

Kau pikir kau pintar?
Tapi ternyata kecerdasanmu belum sesempurna kebodohanku ya?
Haha..
Aku tertawa
Haha..
Lalu airmata
Aku menangis? lagi?

Kau tau, mungkin aku terlalu bahagia
Atau terlalu kecewa
Aku tak mengerti.

Aku gila~!

Puisi

Merak dan Semak

23.33

Sang pangeran menyusuri ruang tempatku bernapas,
Menjelajah malam pada mimpi-mimpiku yang indah
Memberi sejuta harap
Layaknya mentari yang tak jua kunjung padam

Tapi kemudian
Pangeran menapak jalan yang menjauh
Tanpa arah
Hingga kesempurnaan sang pencipta hentikan langkahnya

Pangeranku mendungu
Terlena oleh pesona sang merak

Dia cantik, sangat..
Aku iri pada bulu-bulunya nan indah
Menutupi setiap lekuk tubuhnya yang molek

Dia cantik, sungguh..
Aku cemburu ketika pangeranku menghampirinya
Mendekap dan memujanya dengan amat sangat

Dan aku masih disini
Menanti pangeranku membawa rasa

Tapi mana mungkin!

Sedangkan aku hanyalah semak
Singgahan pangeran untuk meludah
Lalu, pantaskah?

Puisi

Tentang Kita

22.30

Kereta impian berhenti sejenak
Memberi harapan pada sebuah kisah

**
Kehadiranmu seakan menjadi lentara bagi gelapnya kedalaman hati
Bagai rinai hujan dikeringnya dahaga jiwa
Memberikan secercah harap saat jumpa pertama

Ah. benarkah rasa suka
Atau hanya langit yang sedang cerah
Dengan kedatanganmu seolah awan menari indah

Dan kita semakin dekat
Bercerita tentang masa yang telah berlalu
Serta hari esok yang penuh misteri

Tertawa dan bahagia
Seakan kau hadir dengan membawa setangkai cinta

Ah. benarkah rasa cinta
Atau hanya bunga yang mekar pada musim semi
Tapi lalu mati saat musim berganti

Kemudian kereta kembali melaju
Dan kita tak tahu kemana akan melangkah

**
Pada pemberhentian selanjutnya
Awan berarak pulang dan langit menjadi gelap
Lalu tetesan hujan mulai basahi tanah hati

Untuk sesaat
Ada cerita tentang kita
Kemudian kau memilih jalanmu

Dan aku memilih jalanku.

Puisi

Yang Tak Terucap

19.04

Kapan tersampaikan keinginan kalau hanya diam?
Semua cinta hanya angan dalam bayangan
Tertahan dekapan ragu
Dibuai keengganan

Terlalu lama sembunyi dalam kabut kesendirian
Membuat hilang keberaniaan
Menyatakan cinta tanpa bertanya
Pantaskah aku atau perlukah dia?

Tuhan tolonglah...
Walau hanya dalam temaram
Biarkan harapan menjadi kenyataan.

Puisi

CINTA SENDIRI

20.27

Pangeranku tau
Aku malu

Pangeranku sadar
Aku menghindar

Pangeranku mengerti
Kucoba berhenti

Berhenti
Memuja

Berhenti
Menggagumi

Berhenti
Dari hati

Hanya ingin nikmati cinta sendiri

Agar tak terhingga
Agar tak terluka
Agar tak lebih hina.

Puisi

GALAU

21.25

Aku mengerti
Aku mengerti setiap kesedihanmu
Setiap lagu sendu yang kau nyanyikan itu

Aku peduli
Aku peduli pada kesendirianmu
Pada kesepian dan resah hampa jiwamu

Aku mengerti
Tapi kau tak peduli

Aku peduli
Tapi kau tak mengerti

Puisi

TRAGEDI

22.21

Akulah MEDUSA
yang dengan keindahan rupa membuatmu jatuh mencinta

Sedang tanpa sadar
ular-ular liar dalam kepalaku siap mengubahmu jadi patung tak bernyawa

Membunuh dengan romansa.

Puisi

SORE KEMARIN...

10.30


Hati mana saja yang telah kau lalui untuk sampai kemari? tanyaku.

Hanya satu, katamu.

Aku terdiam, sedikit ragu.

Yaa hanya satu, hingga rasa percaya pada jarak yang tak lagi sama memisahkan secara perlahan, keluhmu.

Aku malu.
Dari sekian hati yang telah ku lewati, aku tak pernah memiliki alasan pasti.
Semua berakhir dengan meninggalkan tanya yang tak bertepi.
Tenggelam dalam ribuan kemungkinan.
Terkubur tanpa kematian.

Puisi

KITA

10.05


Aku cinta kamu
Tapi mereka tak mengerti

Kamu cinta aku
Tapi mereka tak memahami

Aku cinta kamu
Kamu cinta aku
Dan biarlah cinta kita menyatu dalam dimensi yang satu

Tanpa terlihat oleh mereka
Hanya kita yang merasa

Bisakah?

.